Operasi Peremajaan Vagina, Adakah Efek Sampingnya?

0
O MauTips.com, Jakarta. Hingga saat ini vaginoplasty atau peremajaan vagina tengah menjadi tren. Prosedur ini sempat jadi pembicaraan hangat saat seorang selebritis, Nikita Mirzani mengaku pernah menjalaninya. Tapi hati-hati, operasi memperbaiki vagina tidak boleh dilakukan sembarangan.

Efek sampingnya bisa infeksi di vaginanya, metode laser yang dosis tidak tepat, ditambah peralatan yang tidak stabil, bisa membuat vagina si pasien mengalami luka hingga penyempitan. Tidak terdapat bukti yang mengisyaratkan alat vaginoplasty tanpa pembedahan, berguna untuk memperbaiki otot vagina atau membentuk kembali jaringan vagina sehingga bisa menimbulkan efek samping. Jika perempuan mengkhawatirkan bentuk dan indera perasa vaginanya, mereka seharusnya berbicara kepada ahli kesehatan. Meskipun demikian perlu diingat, vagina setiap perempuan tidaklah sama. Pemahaman pasien terhadap vaginoplasty harus menyeluruh agar dapat meminimalisir efek samping.

Caranya dengan berkonsultasi pada ahli kesehatan terkait, serta melakoni serangkaian latihan dasar di bagian panggul yang dapat memperbaiki otot dan kepekaan saat berhubungan seksual. Vaginoplasty merupakan operasi plastik yang sering dilakukan untuk memperkuat otot vagina setelah melahirkan. Dalam operasi ini, sebuah alat bakal dimasukkan ke dalam organ kewanitaan untuk memanaskan atau melaser jaringan vagina.

Para ilmuwan menyebut bahwa praktik vaginoplasty menyimpan sederet risiko. Beberapa di antaranya adalah rasa terbakar, bekas luka, dan rasa sakit yang berulang kali muncul. Meski prosedur ini tak termasuk pembedahan, tapi tindakan ini tak 100 persen aman. Perangkat yang digunakan dalam peremajaan vagina ini menggunakan gelombang laser dan frekuensi radio.

Sebelumnya, lisensi alat yang banyak digunakan oleh dokter kandungan ini telah dihapus oleh FDA untuk mengobati jaringan vagina, prakanker, serta kutil kelamin. Sejauh ini, FDA mengaku belum dapat memastikan keamanan dari perangkat yang digunakan untuk peremajaan vagina itu.

Selain itu, FDA juga belum menyetujui penggunaan alat itu untuk terapi seksual lainnya, seperti mengobati vagina yang gatal, menangani disfungsi seksual seperti mengurangi rasa sakit saat berhubungan intim, inkontenensia urine, dan gejala menopause.

Baca Juga: Kenali Gejala Dini Keguguran Yang Tidak Disadari

Risiko vaginoplasty ini seyogianya menjadi pertimbangan sejumlah wanita yang ingin kembali mengencangkan ‘miss v’. Lagipula, sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung soal efektivitas vaginoplasty. (Fan/Tyd)

Share.

Tentang Penulis

Lahir di Jakarta dan saat ini sedang bekerja di salah satu media informasi dan tips yaitu MauTips.com sebagai copywriter atau penulis artikel. Sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku.

Leave A Reply