Kenali Halusinasi, Gejala, Penyebab dan Mengatasinya di SehatQ

0
K MauTips.com, Jakarta. Halusinasi adalah sensasi yang tampak nyata tetapi diciptakan dalam pikiran. Contohnya termasuk melihat hal-hal yang tidak ada, mendengar suara atau suara lain, mengalami sensasi tubuh seperti perasaan merangkak di kulit, atau mencium bau yang tidak ada.

Halusinasi, didefinisikan sebagai persepsi objek atau peristiwa (dalam salah satu dari 5 indera) tanpa adanya stimulus eksternal, dialami oleh pasien dengan kondisi yang mencakup beberapa bidang (misalnya, psikiatri, neurologi, dan oftalmologi). Ketika dicatat oleh nonpsikiater, halusinasi visual, salah satu jenis salah persepsi sensorik, sering memicu permintaan untuk konsultasi psikiatri, meskipun halusinasi visual tidak patognomonik dari penyakit psikiatri primer. Halusinasi visual memiliki banyak etiologi. Mekanisme yang mungkin dan menawarkan diagnosis banding halusinasi visual dengan penekanan pada kondisi yang muncul dalam konteks penyakit medis dan bedah. Pengobatan biasanya bertumpu pada etiologi yang mendasarinya, sehingga pengenalan tepat waktu dan pemahaman tentang mekanisme penyebab sangat penting. Namun kesamaan halusinasi visual yang terkait dengan kondisi yang tampaknya beragam menunjukkan jalur akhir yang sama.

Apa Penyebab Halusinasi Visual?
Banyak hipotesis telah diajukan untuk menjelaskan asal usul halusinasi visual. Psikofisiologis (yaitu, sebagai gangguan struktur otak), psikobiokimia (sebagai gangguan neurotransmiter) dan psikodinamik (sebagai munculnya ketidaksadaran ke dalam kesadaran). Halusinasi visual dapat merupakan hasil dari ketiga proses tersebut, mengingat interaksi antara gangguan anatomi otak, kimia otak, pengalaman sebelumnya, dan makna psikodinamik. Sampai saat ini, tidak ada mekanisme saraf tunggal yang menjelaskan semua jenis halusinasi visual. Ada beberapa penyebab halusinasi visual yang kompleks. Mekanisme pertama melibatkan iritasi (misalnya, aktivitas kejang) pusat kortikal yang bertanggung jawab untuk pemrosesan visual.

Iritasi korteks visual primer menyebabkan halusinasi visual dasar sederhana. Sedangkan iritasi korteks asosiasi visual menyebabkan halusinasi visual yang lebih kompleks. Banyak lesi dapat menyebabkan hilangnya input ini dan menghambat fungsi kognitif lainnya. Sebagai catatan, halusinasi visual dapat diinduksi oleh deprivasi visual yang berkepanjangan. Akhirnya, karena perannya dalam pemeliharaan gairah, sistem aktivasi retikuler telah terlibat dalam asal-usul halusinasi visual. Lesi pada batang otak telah menyebabkan halusinasi visual (seperti pada halusinasi peduncular).

Selanjutnya, halusinasi visual umum terjadi pada mereka yang memiliki gangguan tidur tertentu dan lebih sering terjadi pada mereka yang mengantuk. Pengamatan bahwa halusinasi visual terjadi lebih sering pada mereka yang mengantuk (bahkan tanpa adanya patologi tidur yang jelas) menunjukkan bahwa sistem aktivasi retikuler berperan dalam halusinasi visual, meskipun mekanisme yang tepat belum ditetapkan. Halusinasi dapat menjadi ciri dari gangguan psikotik seperti skizofrenia dan juga sangat umum pada keadaan terinduksi obat dan putus obat.

Ini terjadi dengan sejumlah obat yang berbeda. Orang yang sakit parah, seperti mereka yang mengalami gagal hati atau gagal ginjal, dapat mengalami halusinasi. Penyakit demam tinggi juga dapat menghasilkan halusinasi pada beberapa orang. Halusinasi dapat menyertai gejala psikotik lainnya seperti delusi dan keterputusan dari kenyataan. Mereka bisa bersifat sementara atau bertahan dalam jangka panjang, tergantung pada jenis halusinasi yang tepat dan penyebabnya.

Penyebab lain dari halusinasi antara lain :

Trauma Otak
Sindrom Charles Bonnet
Igauan
Gangguan Delusi
Psikosis yang Diinduksi Obat
Gagal hati
Penggunaan LSD
Halusinosis Peduncular
Gangguan Tidur
Epilepsi Lobus Temporal
Racun

Mengingat berbagai macam etiologi potensial dari halusinasi visual yang diuraikan sebelumnya, jelas bahwa diagnosis yang akurat diperlukan sebelum pengobatan yang efektif dapat dimulai. Anamnesis menyeluruh dan pemeriksaan klinis adalah elemen paling vital dari pemeriksaan halusinasi visual. Gejala dan karakteristik terkait dari halusinasi visual itu sendiri dapat membantu diagnosis langsung.

Baca Juga: Cara Mudah Mengatasi Gangguan Kecemasan

Timbulnya tanda atau gejala psikosis, kurangnya perhatian, parkinsonisme, gangguan penglihatan, atau sakit kepala akan mempersempit diagnosis dan mendorong studi diagnostik lebih lanjut. EEG berpotensi menjadi studi diagnostik yang paling mengungkapkan, karena tidak hanya dapat menyoroti aktivitas kejang. (Fan/Tyd)

Share.

Tentang Penulis

Lahir di Jakarta dan saat ini sedang bekerja di salah satu media informasi dan tips yaitu MauTips.com sebagai copywriter atau penulis artikel. Sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku.

Leave A Reply