Diabetes dan Obesitas Hantui ‘Pengabdi Boba’

0
D MauTips.com, Jakarta. Awalnya, boba hanya menginvasi ranah teh susu yang populer dengan nama bubble tea. Tetapi kini, boba mulai merajai ranah kopi dan minuman manis kekinian lainnya. Bola-bola mini asal Taiwan ini pun semakin mudah ditemukan. Manis, kenyal, dan segar.

Tiga keistimewaan yang membuat minuman boba digilai berbagai kalangan dan mampu menyabet predikat sebagai ‘minuman kekinian’. Akan tetapi, dibalik kesegarannya, minuman boba menyimpan kandungan kalori yang tinggi. Kalori tinggi pada boba didominasi oleh karbohidrat. Padahal karbohidrat saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Tubuh juga memerlukan kandungan gizi lain seperti protein, vitamin, mineral juga serat. Selain karbohidrat, minuman boba juga tinggi gula. Menurut penelitian, varian boba brown sugar mengandung 18,5 sendok teh gula. Padahal kebutuhan gula harian orang dewasa hanya 8-11 sendok teh, sedangkan anak-anak dan remaja 5 sendok teh.

Itu sebabnya, risiko obesitas dan diabetes membayangi mereka yang keseringan konsumsi minuman boba. Kebutuhan kalori seseorang bisa dilihat dari tinggi dan berat badan. Dia memberikan contoh orang dengan kebutuhan kalori 1.900. Konsumsi minuman boba bisa memakan jatah kalori sebanyak 400-500, belum lagi jika ada tambahan gula atau tambahan topping sehingga kalori jadi lebih tinggi.

Artinya satu gelas minuman boba sudah mencukupi seperempat kebutuhan kalori harian. Bila dikombinasikan dengan makan besar sebanyak 3 kali dan juga kudapan lainnya, kalori yang masuk bisa mencapai 2.500 kalori per hari. Obesitas bisa diukur melalui perhitungan Indeks Masa Tubuh (BMI).

Orang yang mengalami obesitas musti bersiap dengan meningkatnya risiko diabetes akibat resistensi insulin. Orang dengan obesitas juga memiliki kadar asam lemak bebas dalam darah yang tinggi. Akibatnya, sel-sel tidak bisa merespons insulin dengan baik. Di samping itu, kelebihan lemak yang disimpan di organ hati dan pankreas juga membuat kinerja insulin terganggu.

Selain meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, keseringan konsumsi minuman boba juga berdampak pada masalah pencernaan. Beberapa bulan lalu tersiar kabar seorang gadis di Provinsi Zhejiang, China mengalami konstipasi atau sembelit. Setelah alami sembelit selama lima hari, dia pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Baca Juga: Ini Ucapan Orang Tua pada Anak yang Sebaiknya Diulang Terus-menerus

Dokter tidak mengetahui pasti penyebabnya. Hingga akhirnya dokter merekomendasikan untuk melakukan CT Scan demi mengetahui pasti penyebab sembelit. Namun hasilnya mengejutkan, sebab ratusan boba yang menggumpal di usus rupanya menjadi ‘biang kerok’ sembelit. (Fan/Tyd)

Share.

Tentang Penulis

Lahir di Jakarta dan saat ini sedang bekerja di salah satu media informasi dan tips yaitu MauTips.com sebagai copywriter atau penulis artikel. Sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku.

Leave A Reply